Sejarah suku mandar
Sejarah Asal muasal dan Peradaban Suku Mandar yang berada di Sulawesi Barat. Mandar merupakan suku atau etnis yang mendiami provinsi Sulawesi Barat. Sebelum terjadi pemekaran suku Mandar tergolong dalam wilayah Sulawesi Selatan bersama dengan etnis suku Bugis, suku Makassar, dan Toraja. Walaupun telah mekar menjadi provinsi sendiri, secara histories dan multi kultural Mandar tetap terikat erat dengan “sepupu-sepupu” serumpunnya di Sulawesi Selatan.Arti Kata Mandar
Kata Mandar memiliki tiga arti yaitu :- Mandar berasal dari konsep Sipamandar yang berarti saling kuat dan menguatkan; penyebutan itu dalam pengembangan diubah penyebutannya menjadi Mandar.
- Kata Mandar dalam penuturan orang atau etnis Balanipa berarti sungai
- Mandar berasal dari Bahasa Arab; Nadara-Yanduru-Nadra yang dalam perkembangan lalu terjadi perubahan artikulasi menjadi Mandar yang berarti tempat yang sangat jarang penduduknya.
Bahasa suku mandar
Bahasa Mandar juga berasal dari rumpun bahasa Malayu Polinesia yaitu bahasa Nusantara atau yang lebih acap disebut sebagai bahasa ibunya orang Indonesia. Oleh Esser (1938) disebutkan, seperti yag dikutip Abdul Muttalib dkk (1992), bahwa mandfarsche dialecten yang awal penggunaannya berangkat dari daerah Binuang bagian utara Polewali hingga daerah Mamuju Utara daerah Karossa.Hingga kini belum jelas benar sejak kapan bahasa Mandar digunakan dalam keseharian orang Mandar. Namun diduga, bahwa penggunaan bahasa Mandar sendiri bersamaan lahirnya orang atau manusia pertama yang berada ditanah Mandar. Hal itulah yang dijadikan rujukan adalah adanya bahasa Mandar yang digunakan dalam lontar Mandar pada abad ke-15 M. Ibrahim Abas (1999).
kuat dugaan bahwa bahasa yang digunakan sistem pemerintahan dan masyarakat masa lalu di daerah Mandar sulawesi barat telah menggunakan bahasa Mandar, yang dapat dicermati dalam beberapa lontar yang terbit pada masa-masa pemerintahan kerajaan Mandar.
Area penyebaran bahasa Mandar diindonesia sendiri, hingga saat ini masih sangat mudah bisa di temui penggunaannya di beberapa daerah di Mandar maupun diindonesia. seperti, Polmas, Mamasa, Majene, Mamuju dan Mamuju Utara. meski demikian di beberapa tempat atau daerah-daerah di Mandar juga telah menggunakan bahasa yang lain, seperti untuk Polmas di daerah Polewali juga sering ditemui penggunaan bahasa Bugis, sebagai bahasa Ibu dari etnis Bugis yang berdiam dan telah menjadi toMandar (orang Mandar-pen) di wilayah Mandar. Begitu pula di Mamasa, menggunakan bahasa Mamasa, sebagai bahasa mereka sendiri yang memang di dalamnya banyak ditemui perbedaan dengan bahasa Mandar. Sementara di daerah Wonomulyo, dapat ditemui banyak masyarakat atau orang yang menggunakan bahasa Jawa, utamanya etnis Jawa yang tinggal dan juga telah menjadi toMandar di daerah tersebut. Kecuali di beberapa tempat di daera Mandar, seperti Mamasa.
Selain daerah Mandar-yang kini menjadi wilayah Provinsi Sulawesi Barat-tersebut, bahasa Mandar juga dapat ditemukan penggunaannya di beberapa komunitas masyarakat di daerah Ujung Lero Kabupaten Pinrang dan daerah Tuppa Biring
Rumah Adat, Seni dan Kebudayaan serta Makanan Khas
Rumah adat suku Mandar disebut Boyang (rumah). Perayaan-perayaan adat suku mandar diantaranya Sayyang Pattu'du (Kuda Menari) seperti pada gambar diatas, Passandeq (Mengarungi lautan dengan cadik sandeq), Upacara adat suku Mandar di Kecamatan Pulau Laut Selatan, Kabupaten Kota Baru, yaitu "mappando'esasi" (bermandi laut). Makanan khas diantaranya Jepa, Pandeangang Peapi, Banggulung Tapa, dll.Kerajaan Suku Mandar
Mandar merupakan ikatan persatuan antara 7 kerajaan di pesisir (Pitu Ba’ba’na Binanga) dan tujuh kerajaan di gunung (Pitu Ulunna Salu). Secara etnis Pitu Ulunna Salu atau yang biasa dikenal sebagai Kondosapata tergolong ke dalam grup Toraja (Mamasa dan sebagian Mamuju), sedangkan di Pitu Ba’ba’na Binanga sendiri terdapat ragam dialek serta bahasa yang berlainan. Keempat belas kekuatan ini saling melengkapi, “Sipamandar” (menguatkan) sebagai satu bangsa melalui perjanjian yang disumpahkan oleh leluhur mereka di Allewuang Batu di Luyo.Dahulu Suku Mandar terdiri atas 17 kerajaan yang terdiri dari 3 bagian yaitu :
- Tujuh kerajaan yang tergabung dalam wilayah Persekutuan Pitu Ulunna Salu adalah : Kerajaan Rante Bulahang, Kerajaan Aralle, Kerajaan Tabulahang, Kerajaan Mambi, Kerajaan Matangnga, Kerajaan Tabang, Kerajaan Bambang
- Tujuh kerajaan yang tergabung dalam wilayah Persekutuan Pitu Ba’bana Binanga adalah :Kerajaan Balanipa, Kerajaan Sendana, Kerajaan Banggae, Kerajaan Pamboang, Kerajaan Tapalang, kerajaan Mamuju, Kerajaan Benuang
- Kerajaan yang bergelar Kakaruanna Tiparittiqna Uhai atau wilayah Lembang Mapi adalah sebagai berikut :Kerajaan Alu, Kerajaan Tuqbi, Kerajaan Taramanuq
Di kerajaan-kerajaan Hulu pandai pada kondisi pegunungan sedangkan kerajaan-kerajaan Muara pandai pada kondisi lautan. Dengan batas-batas sebelah selatan berbatasan dengan Kab. Pinrang, Sulawesi Selatan, sebelah timur berbatasan dengan Kab. Toraja, Sulawesi Selatan, sebelah utara berbatasan dengan Kota Palu, Sulawesi Tengah dan sebelah barat dengan selat Makassar.
Sepanjang sejarah kerajaan-kerajaan di Mandar, telah banyak melahirkan tokoh-tokoh pejuang dalam mempertahankan tanah melawan penjajahan VOC seperti: Imaga Daeng Rioso, Puatta i sa'adawang, Maradia Banggae, Ammana iwewang, Andi Depu, Mara'dia Batulaya dll meskipun pada akhirnya wilayah Mandar berhasil direbut oleh pemerintah VOC.

















