This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Saturday, December 8, 2018

sejarah suku mandar di indonesia

 
sejarah suku mandar
Sejarah suku mandar

Sejarah Asal muasal dan Peradaban Suku Mandar yang berada di Sulawesi Barat. Mandar merupakan  suku atau etnis yang mendiami provinsi Sulawesi Barat. Sebelum terjadi pemekaran suku Mandar tergolong  dalam wilayah Sulawesi Selatan bersama dengan etnis suku Bugis, suku Makassar, dan Toraja. Walaupun telah mekar menjadi provinsi sendiri, secara histories dan multi kultural Mandar tetap terikat erat dengan “sepupu-sepupu” serumpunnya di Sulawesi Selatan.

Arti Kata Mandar

Kata Mandar memiliki tiga arti yaitu :
  1. Mandar berasal dari konsep Sipamandar yang berarti saling kuat dan menguatkan; penyebutan itu dalam pengembangan diubah penyebutannya menjadi Mandar.
  2. Kata Mandar dalam penuturan orang atau etnis Balanipa berarti sungai
  3. Mandar berasal dari Bahasa Arab; Nadara-Yanduru-Nadra yang dalam perkembangan lalu terjadi perubahan artikulasi menjadi Mandar yang berarti tempat yang sangat jarang penduduknya.
Selain itu, dalam buku dari H. Saharuddin, dijumpai keterangan tentang asal muasal dari kata Mandar yang berbeda. Menurut penulisnya, berdasarkan keterangan dari seorang A. Saiful Sinrang, kata Mandar berasal dari kata mandar yang berarti “Cahaya”; sementara menurut Darwis Hamzah berasal dari kata mandag yang berarti “Kuat”; selain itu ada pula  pendapat bahwa penyebutan itu diambil berdasarkan nama Sungai Mandar yang bermuara di pusat bekas Kerajaan Balanipa (Saharuddin, 1985:3). Sungai itu kini lebih dikenal dengan nama Sungai Balangnipa. Namun demikian tampak penulisnya menyatakan dengan jelas bahwa hal itu hanya diperkirakan (digunakan kata mungkin). Hal ini tentu mengarahkan perhatian kita pada adanya penyebutan Teluk Mandar dimana bermuara Sungai Balangnipa, sehingga diperkirakan kemungkinan dahulunya dikenal dengan penyebutan Sungai Mandar.

Bahasa suku mandar

Bahasa Mandar juga berasal dari rumpun bahasa Malayu Polinesia yaitu bahasa Nusantara atau yang lebih acap disebut sebagai bahasa ibunya orang Indo­nesia. Oleh Esser (1938) disebutkan, seperti yag dikutip Abdul Muttalib dkk (1992), bahwa mandfarsche dialecten yang awal penggunaannya berangkat dari daerah Binuang bagian utara Polewali hingga daerah Mamuju Utara daerah Karossa.
Hingga kini belum jelas benar sejak kapan  bahasa Mandar digunakan dalam keseharian orang Mandar. Namun  diduga, bahwa penggunaan bahasa Mandar sendiri bersamaan lahirnya orang atau manusia pertama yang berada ditanah Mandar. Hal itulah yang  dijadikan rujukan adalah adanya bahasa Mandar yang digunakan dalam lontar Mandar pada abad ke-15 M. Ibrahim Abas (1999).

kuat dugaan bahwa bahasa yang digunakan sistem pemerintahan dan masyarakat masa lalu di daerah Mandar sulawesi barat telah menggunakan bahasa Mandar, yang  dapat dicermati dalam beberapa lontar yang terbit pada masa-masa pemerintahan kerajaan Mandar.

Area penyebaran bahasa Mandar diindonesia sendiri, hingga saat ini masih sangat mudah bisa di temui penggunaannya di beberapa daerah di Mandar maupun diindonesia. seperti, Polmas, Mamasa, Majene, Mamuju dan Mamuju Utara. meski demikian di beberapa tempat atau daerah-daerah di Mandar juga telah menggunakan bahasa yang lain, seperti untuk Polmas di daerah Polewali juga sering ditemui penggunaan bahasa Bugis, sebagai bahasa Ibu dari etnis Bugis yang berdiam dan telah menjadi toMandar (orang Mandar-pen) di wilayah Mandar. Begitu pula di Mamasa, menggunakan bahasa Mamasa, sebagai bahasa mereka sendiri yang memang di dalamnya banyak ditemui perbedaan dengan bahasa Mandar. Sementara di daerah Wonomulyo, dapat ditemui banyak masyarakat atau orang yang menggunakan bahasa Jawa, utamanya etnis Jawa yang tinggal dan juga telah menjadi toMandar di daerah tersebut. Kecuali di beberapa tempat di daera Mandar, seperti Mamasa.

Selain daerah Mandar-yang kini menjadi wilayah Provinsi Sulawesi Barat-tersebut, bahasa Mandar juga dapat ditemukan penggunaannya di beberapa komunitas masyarakat di daerah Ujung Lero Kabupaten Pinrang dan daerah Tuppa Biring

Rumah Adat, Seni dan Kebudayaan serta Makanan Khas

Rumah adat suku Mandar disebut Boyang (rumah). Perayaan-perayaan adat suku mandar diantaranya Sayyang Pattu'du (Kuda Menari) seperti pada gambar diatas, Passandeq (Mengarungi lautan dengan cadik sandeq), Upacara adat suku Mandar di Kecamatan Pulau Laut Selatan, Kabupaten Kota Baru, yaitu "mappando'esasi" (bermandi laut). Makanan khas diantaranya Jepa, Pandeangang Peapi, Banggulung Tapa, dll.

Kerajaan Suku Mandar

Mandar merupakan ikatan persatuan antara 7  kerajaan di pesisir (Pitu Ba’ba’na Binanga) dan tujuh kerajaan di gunung (Pitu Ulunna Salu). Secara etnis Pitu Ulunna Salu atau yang biasa dikenal sebagai Kondosapata tergolong ke dalam grup Toraja (Mamasa dan sebagian Mamuju), sedangkan di Pitu Ba’ba’na Binanga sendiri terdapat ragam dialek serta bahasa yang berlainan. Keempat belas kekuatan ini saling melengkapi, “Sipamandar” (menguatkan) sebagai satu bangsa melalui perjanjian yang disumpahkan oleh leluhur mereka di Allewuang Batu di Luyo.

Dahulu Suku Mandar terdiri atas 17 kerajaan yang terdiri dari 3 bagian yaitu :
  1. Tujuh kerajaan yang tergabung dalam wilayah Persekutuan Pitu Ulunna Salu adalah : Kerajaan Rante Bulahang, Kerajaan Aralle,  Kerajaan Tabulahang, Kerajaan Mambi, Kerajaan Matangnga,  Kerajaan Tabang, Kerajaan Bambang
  2. Tujuh kerajaan yang tergabung dalam wilayah Persekutuan Pitu Ba’bana Binanga adalah :Kerajaan Balanipa, Kerajaan Sendana, Kerajaan Banggae, Kerajaan Pamboang,  Kerajaan Tapalang, kerajaan Mamuju,  Kerajaan Benuang 
  3. Kerajaan yang bergelar Kakaruanna Tiparittiqna Uhai atau wilayah Lembang Mapi adalah sebagai berikut :Kerajaan Alu, Kerajaan Tuqbi, Kerajaan Taramanuq


Di kerajaan-kerajaan Hulu pandai pada kondisi pegunungan sedangkan kerajaan-kerajaan Muara pandai pada kondisi lautan. Dengan batas-batas sebelah selatan berbatasan dengan Kab. Pinrang, Sulawesi Selatan, sebelah timur berbatasan dengan Kab. Toraja, Sulawesi Selatan, sebelah utara berbatasan dengan Kota Palu, Sulawesi Tengah dan sebelah barat dengan selat Makassar.

Sepanjang sejarah kerajaan-kerajaan di Mandar, telah banyak melahirkan tokoh-tokoh pejuang dalam mempertahankan tanah melawan penjajahan VOC seperti: Imaga Daeng Rioso, Puatta i sa'adawang, Maradia Banggae, Ammana iwewang, Andi Depu, Mara'dia Batulaya dll meskipun pada akhirnya wilayah Mandar berhasil direbut oleh pemerintah VOC.

Friday, December 7, 2018

download lagu makan daging anjing dengan sayur kol mp3 gratis

download lagu makan daging anjing dengan sayur kol


Lirik lagu Sayur Kol

Waktu abang pergi ke siborongborong
Datang hujan yang amat deraslah
Terkejut abang terheran-heran
Sebab abang belum pernah kesana

Untung datang namboru panjaitan
Martarombu kami dijalan
Diajaknya aku ke rumah dia
Makan daging anjing dengan sayur kol

Sayur kol sayur kol
Makan daging anjing dengan sayur kol
Sayur kol sayur kol
Makan daging anjing dengan sayur kol

Amang tahe aha do on
Tabo na i gabe repot hamu namboru…
Siak ni jagal on poang

Penyanyi : Punxgoaran

download lagu balo lipa mp3



lirik lagu balo lipa

Lemmusa nyamu andi
Musolangi atikku
Engka mu tudang botting
Riolo mattakku
Mennengngi uwisseng memengngi
Mappoji balo lipami
Rimulanna mopaNadetto sirampe
Nadetto sirampe
Kessipa ro adammuRiwettu silolota
Makkuleno ro anriMusolangi atikku
Kessipa ro adammu
Riwettu silolota
Makkuleno ro anri
Musolangi atikku
Monro ale ale madoko watakale

Reff. Kessipparo adammu
Riwettu siolota
Nakkullenaro anri
Musolangi atikku

Monro ale ale
Madoko watakkale

Bennengngi wisseng
Memeng
Mappoji balo lipami
Rimulanna mopa
Nade' tosirampe
Nade' tosirampe

Arti Lagu Balo Lipa

Sungguh tega dirimu adik
Kau sakiti hatiku
Kau duduk bersanding di pelaminan
Di depan mataku

Andai saja kutahu
Sejak dahulu
Kau suka aku bagai motif sarung
Pada awalnya, aku tak akan memulai hubungan
Tak akan saling mengingat
Tak akan saling mengingat

Sungguh manis kata-katamu di depanku
Di masa lalu
Teganya dirimu
Kau sakiti hatiku

Tinggallah aku sendiri
Merenungkan nasib diri

Andai saja kutahu
sejak dahulu
Kau suka aku bagai motif sarung
Pada awalnya, aku tak akan memulai hubungan
Tak akan saling mengingat
Tak akan saling mengingat

Thursday, December 6, 2018

Sejarah suku bugis di indonesi

sejarah suku bugis di indonesia

Awal mula suku bugis

Bugis merupakan suku atau etnik  yang berada di wilayah  Sulawesi Selatan. Ciri utama suku atau etnik bugis ini adalah bahasa bugis dan adat-istiadat bugis yang masih melekat kuat. Orang Bugis banyak menyebar di seluruh provinsi di Indonesia.

Suku Bugis digolongkan ke dalam suku Melayu Deutero. yang Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari dataran Asia tepatnya diYunan. Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang artinya orang Bugis.

Pemahaman "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan China yang berada di Pammana, Kabupaten Wajo sampai skarang ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika orang La Sattumpugi menamai dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menamai dirinya sebagai To Ugi atau  pengikut dari La Sattumpugi.

La Sattumpugi adlah ayah dari We Cudai dan masi bersaudara dengan Batara Lattu, yaitu ayah dari Sawerigading. Sawerigading sendiri merupakan suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat berbagai karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah yaitu kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo yaitu dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi rakyat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

Bahasa suku Bugis

Bahasa yang sering digunakan adalah bahasa Bugis yang menyebar di beberapa kabupaten. Biasanya masing-masing kabupaten memiliki logat atau dialek tersendiri dalam penggunaan bahasa bugis. Selain itu masyarakat Bugis memiliki penulisan tradisional yang memakai aksara Lontara. seperti pada gambar diatas

Perkembangan

Dalam perkembangan, suku ini berkembang dengan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini lalu mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri.  ada Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu merupakan kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan China (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan)

Adat Istiadat

Dalam kebudayaan suku bugis terdapat tiga hal penting yang bisa memberikan gambaran tentang kebudayaan orang bugis, yaitu konsep ade, siri na pesse dan simbolisme orang bugis adalah sarung sutra.

Konsep ade

Ade yang artinya adalah adat-istiadat. Bagi masyarakat suku bugis, ada empat jenis adat yaitu  :
  • Ade maraja, merupakan adat yang dipakai dikalangan Raja atau para pemimpin.
  • Ade puraonro, adalah adat yang sudah dipakai sejak lama di masyarakat secara turun temurun,
  • Ade assamaturukeng, merupakan peraturan yang ditentukan melalui kesepakatan.
  • Ade abiasang, merupakan adat yang dipakai dari dulu sampai sekarang dan sudah diterapkan dalam masyarakat.

Menurut Lontara Bugis, terdapat lima prinsip mendasar dari ade yaitu ade, bicara, rapang, wari, dan sara. Konsep ini dikenal sebagai pangngadereng. Ademerupakan manifestasi kelakuan atau sikap yang fleksibel terhadap berbagai jenis peraturan dalam masyarakat.  Rapang cenderung merujuk pada model atau tingkah laku yang baik yang hendak diikuti oleh masyarakat. Sedangkan wari adalah peraturan mengenai keturunan dan juga hirarki masyarakat sara yaitu aturan hukum Islam. Siri memberikan prinsip yang sangat tegas bagi tingkah laku atau sikap orang bugis.

Menurut kata Pepatah orang bugis, hanyalah orang yang punya siri yang dianggap jaga sebagai manusia. Naia tau de’e sirina, de lainna olokolo’e. Siri’ e mitu tariaseng tau. Artinya Barang siapa yang tidak punya siri, maka dia bukanlah siapa-siapa, melainkan hanya seekor binatang. Namun saat ini adat-istiadat tersebut sudah tidak dilakukan dikarenakan pengaruh budaya Islam yang masuk sejak tahun 1600-an

Konsep siri’

Makna dari“siri” dalam masyarakat suku bugis sangat begitu berarti sehingga ada pepatah bugis yang mengatakan “SIRI PARANRENG, NYAWA PA LAO”, yang artinya : “Apabila harga diri telah terkoyak, maka nyawalah bayarannya”.Begitu tinggi makna dari siri ini hingga dalam masyarakat suku bugis, kehilangan harga diri seseorang hanya dapat dikembalikan dengan dibayar nyawa oleh si pihak lawan bahkan yang bersangkutan sekalipun.

Siri’ Na Pacce secara lafdzhiyah Siri’ berarti : Rasa Malu (harga diri), sedangkan Pacce atau dalam bahasa Bugis disebu Pesse yang berarti : Pedih/Pedas (Keras, Kokoh pendirian). Jadi Pacce berarti semacam kecerdasan emosional untuk turut merasakan kepedihan atau kesusahan individu lain dalam komunitas (solidaritas dan empati).

Kata Siri’, dalam bahasa Makassar atau Bugis, bermakna “malu”. Sedangkan Pacce (Bugis: Pesse) dapat berarti “tidak tega” atau “kasihan” atau “iba”. Struktur Siri’ dalam Budaya Bugis atau Makassar mempunyai empat kategori, yaitu :

  •  Siri’ Ripakasiri’ Adalah Siri’ yang berhubungan dengan harga diri pribadi, serta harga diri atau harkat dan martabat keluarga. Siri’ jenis ini adalah sesuatu yang tabu dan pantang untuk dilanggar karena taruhannya adalah nyawa.
  •  Siri’ Mappakasiri’siri’ Siri’ jenis ini berhubungan dengan etos kerja. Dalam falsafah Bugis disebutkan, “Narekko degaga siri’mu, inrengko siri’.” Artinya, kalau Anda tidak punya malu maka pinjamlah kepada orang yang masih memiliki rasa malu (Siri’). Begitu pula sebaliknya, “Narekko engka siri’mu, aja’ mumapakasiri’-siri.” Artinya, kalau Anda punya malu maka jangan membuat malu (malu-maluin).
  • Siri’ Tappela’ Siri (Bugis: Teddeng Siri’) Artinya rasa malu seseorang itu hilang “terusik” karena sesuatu hal. Misalnya, ketika seseorang memiliki utang dan telah berjanji untuk membayarnya maka si pihak yang berutang berusaha sekuat tenaga untuk menepati janjinya atau membayar utangnya sebagaimana waktu yang telah ditentukan (disepakati). Ketika sampai waktu yang telah ditentukan, jika si berutang ternyata tidak menepati janjinya, itu artinya dia telah mempermalukan dirinya sendiri.
  • Siri’ Mate Siri’  Siri’ yang satu berhubungan dengan iman. Dalam pandangan orang Bugis/Makassar, orang yangmate siri’-nya adalah orang yang di dalam dirinya sudah tidak ada rasa malu (iman) sedikit pun. Orang seperti ini diapakan juga tidak akan pernah merasa malu, atau yang biasa disebut sebagai bangkai hidup yang hidup.

Guna melengkapi keempat struktur Siri’ tersebut maka Pacce atau Pesse menduduki satu tempat, sehingga membentuk suatu budaya (karakter) yang dikenal dengan sebutan Siri’ Na Pacce.

Penyebaran Islam

Pada awal abad ke-17, datang penyiar agama Islam dari Minangkabau atas perintah Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Mereka adalah Abdul Makmur (Datuk ri Bandang) yang mengislamkan Gowa dan Tallo, Suleiman (Datuk Patimang) menyebarkan Islam di Luwu, dan Nurdin Ariyani (Datuk ri Tiro) yang menyiarkan Islam di Bulukumba.

Mata pencarian

Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang sangat subur dan dipesisir, maka kebanyakan dari masyarakat suku Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah menjadi pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.

Perompak

Sejak Perjanjian Bongaya yang menyebabkan jatuhnya Makassar ke tangan kolonial Belanda, orang-orang Bugis dianggap sebagai sekutu bebas pemerintahan Belanda yang berpusat di Batavia. Jasa yang diberikan oleh Arung Palakka, seorang Bugis asal Bone kepada pemerintah Belanda, menyebabkan diperolehnya kebebasan bergerak lebih besar kepada masyarakat Bugis. Namun kebebasan ini disalahagunakan Bugis untuk menjadi perompak yang mengganggu jalur niaga Nusantara bagian timur.

Armada perompak Bugis merambah seluruh Kepulauan Indonesia. Mereka bercokol di dekat Samarinda dan menolong sultan-sultan Kalimantan di pantai barat dalam perang-perang internal mereka. Perompak-perompak ini menyusup ke Kesultanan Johor dan mengancam Belanda di benteng Malaka.

Bugis perantauan

Kepiawaian suku Bugis dalam mengarungi samudra membuat suku bugis cukup dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka pun hingga ke negara Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand, Australia, Madagaskardan Afrika Selatan. Bahkan, di pinggiran kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb yang bernama Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat tanah asal nenek moyang mereka.

Penyebab merantau

Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan